Poster Buku ” Guru Sejati dan Muridnya”

10 March 2008

kopipahit @ 1:38 pm | Desain Grafis, Tulisan | yang Minum (4)

inilah Catatan nasihat Seorang Buta Huruf…

yang berasal dari pedalaman hutan srilanka..

 Nasihat Bawa Muhaiyadden sebagai Mursyid di sampaikan sesuai konteks kehidupan keseharian para muridnya yang berasal dari abad ke 20.

Alih bahasa: Herry Mardian / suluk.blogsome.com

PEMESANAN

Jaringan buku Toga Mas dan Gramedia

Toko Buku Sobari : Bapak Apuy  (+62-856-240-67-250)

Untuk Jakarta dan sekitarnya, Bapak Avan (0812-902-3152)

atau surat elektronik ke avannoer |at| gmail |dot| com.

Pasar Jual Beli [An Nuur :61]

07 August 2006

kopipahit @ 3:15 am | Tulisan | yang ikutan (1)

Wow… teriak C dalam hati. baru pertama kalinya ia melihat pasar yang besar dan mewah seperti ini. Tidak dapat ia bayangkan apalagi membandingkan dengan pasar-pasar yang pernah ia kunjungi sebelummya. Sungguh Dia menuntunku, tidak sia-sia perjalananku kali ini. Haus sekali tenggorokanku gumammnya, namun ia belum juga menemukan pedagang yang menjual air untuk melepas dahaganya. Pasar yang aneh, begini banyaknya toko yang ada mengapa sepi sekali ya orang datang kemari. Ia memperhatikan para pejalan yang datang, kebanyakan tubuh mereka tertutupi debu dan sedikit sekali yang kelihatan segar, rata-rata yang datang kebanyakan orang-orang buta, ada yang juga pincang jalannya dan beraneka wajah hewan yang tampak asing baginya.
Ia tersenyum ternyata bukan ia saja yang aneh di pasar ini pikirnya, dari kejauhan dilihatnya banyak sekali kerumunan orang, mereka mengelilingi seorang pedagang kaki lima yang nampaknya menawarkan sesuatu yang banyak dicari-cari para pengunjung pasar ini. Ahh..lebih baik aku kesana mencari tahu gerangan apa yang di jual disana. Setelah memperhatikan dari dekat ternyata pedangang ini menjual sebentuk amal, banyak sekali ya ternyata amal-amal yang ia jual dan sepertinya murah-murah, maklumlah namanya juga amal-amal tiruan, kalau yang berkualitas mana mungkin di jual di emperan begini. Namanya juga baru belajar berjalan tentu saja para pencari tersebut tidak dapat membedakan mana yang amal 3 seribu atau amal sholeh. Amal 3 seribu itu maksudnya amal yang paling banyak peminatnya dan mengikuti mode, karena jika tidak mengikuti mode mereka akan takut di cemoohkan oleh sahabat-sahabat butanya atau paling tidak mereka tidak dikatakan sebagai pelaku bid’ah. Lalu C mendekati kerumunan itu sekedar ingin tahu atau jika memungkinkan mencoba untuk menambah perbekalan perjalanan selanjutnya pikirnya.

A : dipilih… dipilih (…x)
C : Berapa Amal ini ?
A : Amal yang mana ?
C : Memangnya amal yang "bapak" jual bisa saya pesan ?
A : tentu saja,  dirimu lagi membutuhkan apa ? saya dapat mencarikannya dengan sekali langkah.
C : hmm.. apa ya ? saya ngga’ tahu nih..! cuma ketika lewat, rasa-rasanya saya harus membeli. tapi seberapa banyak dan jenisnya saya juga tidak mengerti.
Dasar benar-benar pedagang kelas emperan nih orang pikirnnya.

C : Anu pak.. Amal Sholeh ada gak ya ..?

A : ohh ada mau yang mana, soleha atau solihin, atau yang buat jalan solsepatu..

C : ha.. haaa.. bisa aja bapak ini. saya mau yang asli, punya gak … !!
A : wahh.. wahh kalau yang itu, Sebaiknya sebelum ke sini kamu membeli dulu keimanan di toko itu. agar nanti bisa membedakan mana yang asli dan yang imitasi. kata pedagang itu sambil terkekeh-kekeh, sambil menunjukan arah kanan dimana toko yang dimaksud itu berada kembali ia berteriak-teriak seperti semula dan tidak mempedulikan C yang terbengong dengan ucapannya tersebut.

Akhirnya C meninggalkan kerumunan itu lalu berjalan lagi mencari toko yang dimaksud tadi. Tampaknya tidak mudah bagi dirinya menemukan letak yang pasti di mana toko yang asli itu berada. di setiap etalase terpampang Obral besar Disc 50%, terima jual beli keimanan, cuci gudang sampai 90%. Gila pikirnya pedagang pedagang ini benar-benar penipu sejati. ahh sudahlah lebih baik aku menanyakan di toko yang sederhana itu, kelihatan pelayannya tampak jujur.

C : Maaf, apakah disini menjual keimanan ?
I : ada, mau yang berapa lama ?
C : Yang berapa lama…? jadi bingung. memangnya ada masa expired nya ?
I :  Iyalah, tentu saja. saya sarankan sih, kalo mau sih… (sambil berbisik) cari yang pake bahan pengawet, biar tahan lama.
C : GAK AHHH…!! tidak sehat itu dan bisa merusak dari dalam.
I : hee…hee… bagus..bagus.. jika kamu mau yang asli 100% sebaiknya ke toko taubat itu dulu.
sambil I menunjukan arah ke bawah.

Gilaaa pasar Apa ini, dari tadi saya ditabrakan ke sana kemari seperti bola Billyard. Tapi sudahlah yang penting saya berniat mencari yang "sejati" bukan imitasi. Maka berjalanlah C menuju toko yang di maksud. tentu saja perjalanan kali ini lebih sulit 7x lipat daripada perjalanan sebelumnya. akhirnya sampailah ia tempat tujuannya, di atas toko tersebut tertulis "Tidak menerima orang buta hati", toko yang aneh pikirnya.

C : Halooo….
C : Peeerrrrmiiissssiii…..
C : Spaadaaa….
C : Punteen…
C : Anybody there…

"Kemana sih yang jual" katanya dalam hati. C melihat-lihat taubat yang di jual, sambil menunggu pemiliknya muncul. ahhh… ternyata banyak sekali jenis taubat itu yaa. katanya dalam hati. tiba2 matanya tertuju pada 1 bungkusan putih bening, yang bertuliskan "Nasuha" tapi anehnya C tak mampu mengambilnya, perasaan sih gampang sekali jika dilihat dan dibaca. koq memegannya tidak bisa ya.. ?

tiba-tiba munculah sosok kesadaran dan tersenyum ramah. sambil memandang Pencari tersebut ia berucap " Tidak ada halangan bagi orang "buta", tidak (pula) bagi orang "pincang", tidak (pula) bagi orang "sakit", dan tidak (pula) bagi "dirimu sendiri", makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya." (An Nuur :61.)

Untuk membeli sesuatu di toko ini harus ada aturannya, ahh… bodoh sekali diriku ini, pantas tadi ia tidak menjawab teriakanku tadi.
C : Assalamu’alaykum…. (dengan wajah memerah dan tertunduk malu.)
T :  Wa’alaykumsalam…. ada yang bisa saya bantu, Saudaraku.. ?

Bersambung… 

 

 


Kopi Pahit

Grab this Headline Animator