Ketika “cinta” adalah keterHijaban kepadaNYA

December 18, 2006

kopipahit @ 10:28 am | Tanya Jawab |

Ikhwan: salam..

Akhwat: wassalaam

Ikhwan: boleh nanya ?

Akhwat: iya

Ikhwan: bagaimana sikap mba ketika suami belum jadi salik ?
Ikhwan: apakah diarahkan ? atau mengamati  sikap2 dan langkah2 yg diambil olehnya?

Akhwat: aku sedih dlm hati karena suami belum jadi salik, tapi terus cerita
Akhwat: sambil berdoa tak henti-hentinya

Ikhwan: gmn penghadapan ke Wajah Dia, ketika berinteraksi dg suami waktu itu ?

Akhwat: wah, pertanyaan yg bagus, tapi sullit dijawab
Akhwat: buat kami sih, kami menikah harus bersama dan sejalan
Akhwat: sebenarnya, mungkin aku merasa lebih dekat ke Allah saat itu karena aku benar2 sendirian
Akhwat: justru setelah bersama-sama jadi salik, pernah ada waktu terlena
Akhwat: ketika kami jadi asyik berdua lagi
Akhwat: terus diajarkan bahwa cinta kita pun harus diberikan sepenuhnya pada Allah
Akhwat: sangat halus sekali
Akhwat: karena kita kira, setelah sama2 jadi salik kan, kita berjalan beruda ke Allah
Akhwat: tapi ternyata tidak begitu
Akhwat: dari kejadian itulah, kami benar2 hati2 untuk tidak saling tergantung pada satu sama sekali
Akhwat: walau cinta, itu semua karena Allah
Akhwat: pemisahan ini begitu halus sekali
Akhwat: kenapa emangnya ?

Ikhwan: hijab ketika kita harmonis ( membuat terlena ? ) rasa sedih ketika tidak harmonis ( membuat terlena ? )
Ikhwan: saya lagi mengamati tentang pasangan

Akhwat: terus

Ikhwan: lagi belajar bagaimana ketrgantungan dia kpd saya
Ikhwan: dan melepas kertagantungan dia kpd saya jg
Ikhwan: sangatlah rapuh ketika seorang msh bingung dengan tujuan hidup

Akhwat: (kalian cinta berat ya satu sama lain??? hati2 lho)
Akhwat: cinta pada pasangan bisa menjadi penghalang cinta pada Allah
Akhwat: terus?

Ikhwan: saya IA tdk spt itu.. krn sebelumnya telah belajar hal itu
Ikhwan: bgm ya menjelaskan kpd perempuan..?

Akhwat: ketergantungan gimana nih?

Ikhwan: rata2 mereka kan bermain ditataran perasaan
Ikhwan: artinya gampang sedih, gampang terluka..

Akhwat: iya..betul…waktu aku menemukan kejadian itu, sangat berat dan menyakitkan

Ikhwan: trus apa yg dilakukan ?

Akhwat: belajar sambil terjatuh2 dan terantuk
Akhwat: aku melihat cerita2 poligami itu akan menjadi cara baik yang masuk, bahwa ketergantungan dan cinta itu pada Allah sendiri
Akhwat: eh, tapi, cerita dulu dong back ground masalahnya dong

Ikhwan: gini
Ikhwan: mungkin perspektif ttg tujuan menikah antara seorang pejalan dan yg msh bingung ttg tuj hidup akan sangat jomplang jauh
Ikhwan: mungkin yang hidup di sini inginnya hidup bahagia, punya anak, RT adem ayem tanpa masalah bla…bal.. dst sampe tua.
Ikhwan: sedangkan seorang pejalan tujuannya menikah, adalah membuka khasanah Rasulullah ttg ketauhidan, Cinta kpd Allah.. misi hidup..
Ikhwan: bener gak ?

Akhwat: betuuuul banget
Akhwat: setuju

Ikhwan: ok skarang masuk ke masalahnya ..

Akhwat: ya?
Akhwat: kenapa?

Ikhwan: ketika pasangan kita sangat sedih krn hidangan (ujian) lumayan banyak dan berat
Ikhwan: di kantor cukup berat, masalah keluarga pun demikian, masalah pernikahan yg ingin sempurna dari pihak keluarga, sedangkan ketika kita tidak cukup daya utk itu.. apa yg hrs di lakukan?
Ikhwan: dan ini menimbulkan rasa sedih karenanya.
Ikhwan: nah merubah pandangan ttg pernikahan itu yg agak repot antara pejalan dgn yg msh bingung dgn tujuan hidup

Akhwat: kalau aku sih, karena percaya untuk bercerita apapun pada suami saya, jujur, apa adanya, maka apa pun yang ada di pikiran aku keluarkan
Akhwat: lamaaa enggak mudheng2, apalagi aku dan suami beda kulturnya
Akhwat: tapi yang menakjubkannya, karena rahmat Allah, hal2 yg saya bilang lama sebelumnya dan tidak masuk akal yang luar
Akhwat: ternyata Allah berkenan memasukkannya ke dalam
Akhwat: penempaan kami sangat berat sekali sejak awal pernikahan
Akhwat: tapi justu dengan tempaan yang berat itu, banyak teori ttg berserah diri, misi hidup, bersabar dlsb jadi hidup
Akhwat: dan pelan2 sekarang saya bisa melihat suami saya sangat in-tune dengan prinsip2 suluk
Akhwat: prosesnya ya dalam 4 tahunan inilah
Akhwat: bukan berarti kami selesai
Akhwat: waktu itu, saat kita enggak nyambung2nya
Akhwat: Allah harus menghadirkan sebuah ujian berat yang menghancur leburkan hubungan lama, agar kami bisa mulai membangun yg baru
Akhwat: ajaib sekali memang cara Allah bekerja
Akhwat: cuma yang saya lihat, itulah bijaksananya Allah
Akhwat: minta dengan menghiba padaNya, sampaikan terus terang pada pasangan tentang apa2 prinsip2 hidup kita
Akhwat: tidak akan ada yg sia2 dari apa yang telah kita lakukan
Akhwat: mungkin tidak masuk at the beginning
Akhwat: tapi dengan niat ikhlas, tidak ada usaha yg sia2
Akhwat: gimana, make sense enggak si?

Ikhwan: gmn ya.. syuseh prakteknya 
Ikhwan: saya pernah nanya k mentor, gini
Ikhwan: koq saya masih abstrak ttg berserah diri itu ?
Ikhwan: jawabannya sungguh mengejutkan saya, itu pertannyaan dia dulu jg ternyata
Ikhwan: bahwa berserah diri akan diketahui setelah bertemu dg "Keberserahdirian" itu sendiri yang mewujud dan nyata
Ikhwan: maka akan mengerti benar bahwa Allah itu Tuhan seru sekalian Alam..
Ikhwan: bukan sekedar alam ini saja tapi 18.000 alam-alamNya
Ikhwan: dan tidak ada lagi mahluk2 jahat karena smuanya adalah keberserahdirian dari Asma Dia saja

Akhwat: apa??? saya malah enggak pernah tahu itu
Akhwat: interesting
Akhwat: terima kasih

Akhwat: pokoknya, dijalani saja
Akhwat: jangan takut untuk mengajari, karena Insya Allah, Dia yang akan mengajari
Akhwat: kobarkan saja semangat pencarian itu berdua, senantiasa
Akhwat: karena itu yang bikin Allah mendengar bisikan terhalus kita akan cinta padaNya
Akhwat: adduh, make sense enggak sih?

Ikhwan: entahlah.. tapi ada kesejukan ketika ngobrol2 dgn salik
Ikhwan: semoga sadhr kita + dilapangkan

Akhwat: aaamiiin
Akhwat: oh ya, waktu aku married, ortu maunya juga heboh, tapi alhamdulillah, kami bisa minta untuk sederhanakan saja.  setelah itu, banyak sekali orang dan saudara yang mengikuti cara kami tersebut
Akhwat: alasannya sih, karena lebih baik uangnya untuk bekal rumah tangga

Ikhwan: ada pesan2 buat sesama perempuan

Akhwat: menikah dengan salik akan banyak ditempa dan diajari oleh Allah
Akhwat: karena itu, harus kuat dalam berhubungan dengan Allah
Akhwat: kembalikan semuanya pada Allah, itulah yang mematangkan pernikahan
Akhwat: ( i think)
Akhwat: pokoknya, berserah diri lah pada Allah
Akhwat: (walaupun aku pun masih jauh dari itu )

Ikhwan:  sama..

Akhwat: let me know how it goes ya
Akhwat: tadi cerita awalnya kan gimana cara melepas ketergantungan, iya kan?
Akhwat: cerita kelanjutannya ya
Akhwat: ok?
Akhwat: mohon maaf kalau ada kata yg salah

Ikhwan: sama2.. smoga kita dislamatkan dari kata2 kita sendiri yg tidak haq

Akhwat: iya, nice to talk to u
Akhwat: wassalaamu alaikum wrwb
Ikhwan: wassalaamu alaikum wrwb

 

 

4 Comments »

  1. Salik itu artinya apa yaaa???

    Comment by Aku — December 18, 2006 @ 2:30 pm

  2. Seorang yang menempuh jalan taubat, biasanya dalam jama’ah, tapi jg bisa sendiri. dengan tujuan mengenal diri (jiwa) guna mengenal Penciptanya.
    Sedangkan suluk adalah jalan taubat yg di tempuh oleh sang salik (pejalan). banyak jalan untuk menmpuhnya sebanyak jiwa2 yang ada.

    Al Insaan
    30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

    At Takwiir
    29. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

    artinya Taubat itu dapat terlaksana karena izin (pemberian) Dia

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Comment by Rudi — December 18, 2006 @ 3:00 pm

  3. terus, gimana cara dapat izin nya?..bukankah dengan niat bertaubat sudah cukup?..asal taubat yang sebenar benarnya..

    dan bagaimana mengetahui jalan mana yang baik yang harus sang salik itu tempuh?..krn banyak jalan sebanyak jiwa yang ada..

    Comment by dejavu — December 20, 2006 @ 9:37 am

  4. Niat saja tidak cukup jika tidak dikuti dengan memperbaiki diri baik ahlak, pengetahuan yang Haq dan beramal dengan ihklas, perhatikan ayat ini :

    Al Baqarah
    160. kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.

    Al Furqaan
    71. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

    untuk mengetahui jalan mana yang baik, dibutuhkan seorang Mursyid Sejati. yang memang misi hidupnya adalah sebagai mursyid/pembimbing spiritual para salik untuk memurnikan dan menyucikan diri mereka atas ijin Allah SWT karena ia dapat membimbing muridnya sampai ketingkat tataran jiwa. dan mengetahui misi hidup murid2nya.
    salik pun tidak boleh taklid buta kepada mursyidnya. Kepercayaan harus muncul secara alami melalui proses pembersihan qalb, sehingga mutlak diperlukan penguatan dengan ilm.

    36. Yaasiin
    21. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

    jalan disini adalah jalan taubat. artinya setiap diri kita mempunyai jalannya masing2 untuk bertaubat.
    adapun caranya spt dlm ayat :
    20. Thaahaa
    77. Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan (Thariqah) yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).”

    Jalannya dengan ber-tariqah dan ber-mursyid.
    Thariqah adalah jalan kering dalam lautan, jalan tiap diri menuju Tuhan di muka bumi ini tanpa terbasahi oleh lautan duniawi.
    seperti ikan yang hidup di laut, tapi tidak menjadi asin karenanya.

    Thariqah bukanlah berarti seseorang itu harus hidup dengan mengabaikan dunia dan hidup miskin. Manusia tidak mungkin bisa mencapai tingkatan ma’rifat ( mengenal Tuhannya), menemukan diri sejati serta misi hidupnya, dengan cara hidup menyendiri (bertapa atau tidak menikah) dan tidak bergaul dengan masyarakat. Tidak berikhtiar untuk penghidupannya dan tidak mematuhi / menghormati syariat dan tidak menjalankan As Sunah dari Rasulullah. Kita boleh saja kaya raya seperti Nabi Sulaiman, tapi hati kita tidak boleh terisi dengan kecintaan pada dunia. Inilah namanya zuhud.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Comment by Rudi — December 20, 2006 @ 11:00 am

yang pengen dapet kopi.... tulis di sini :D


Photography Friendster Feed Mybloglog Yahoo Messenger    

Para Penulis

  • Kopi pahit
  • Melintas Bumi
  • 36th

Kategori

Tulisan Terakhir

Sering dibaca

yang Komentar